Tugas 1
Nama : Widya Agustina
Kelas : 16 Pus C
Nim : 1654400114
PRINSIP-PRINSIP
PENGELOLAAN ARSIP ELEKTRONIK
ISO Standard 15489-1
memberikan tiga prinsip berikut dalam program manajemen arsip.
1. Arsip
dibuat, diterima dan digunakan dalam pelaksanaan aktivitas bisnis. Untuk
mendukung keberlangsungan bisnis, kepatuhan terhadap peraturan yang ada,
organisasi harus menciptakan dan memelihara arsip yang otentik, reliabel dan
dapat digunakan, serta melindungi integritas arsip tersebut sepanjang
diperlukan.
2. Aturan-aturan
bagi penciptaan dan pengkapturan arsip dan metadata harus dipadukan ke dalam
prosedur-prosedur yang mengatur semua proses bisnis yang membutuhkan bukti bagi
aktivitasnya.
3. Perencanaan
keberlangsungan bisnis dan langkah-langkah kontigensi harus menjamin bahwa
arsip-arsip yang vital bagi berjalannya fungsi organisasi diidentifikasi
sebagai bagian dari analisis risiko dan dilindungi serta dapat dipulihkan bila
diperlukan.
Di
samping itu, standar tersebut mensyaratkan beberapa karakteristik berikut agar
suatu sistem pengelolaan arsip dapat beroperasi secara efektif dan efisien.
a. Andal Sistem pengelolaan arsip harus
dapat:
1. menjaring
(capture) secara rutin semua arsip dari seluruh kegiatan dalam rangka
pelaksanaan tugas dan fungsi organisasi;
2. menata
arsip dengan cara yang mencerminkan proses kegiatan organisasi;
3. melindungi
arsip dari perubahan atau penyusutan oleh pihak yang tidak berwenang;
4. berfungsi
secara rutin sebagai sumber utama dari informasi tentang kegiatan yang terekam
dalam arsip;
5. menyediakan
akses terhadap semua arsip berikut metadatanya
b.
Utuh Sistem pengelolaan arsip harus dilengkapi dengan
sarana pengendali sehingga mampu mencegah akses, perubahan, pemindahan atau
pemusnahan arsip dari pihak yang tidak berwenang.
c.
Sesuai peraturan Sistem pengelolaan arsip harus memenuhi
ketentuan peraturan perundang-undangan, standar, pedoman dan petunjuk teknis
yang terkait.
d.
Menyeluruh Sistem pengelolaan arsip harus mampu
mengelola seluruh arsip yang diciptakan organisasi dalam bentuk corak apa pun.
e.
Sistematik Sistem pengelolaan arsip harus mengelola
arsip sejak penciptaan hingga penyusutan yang pelaksanaannya secara sistematis
mengacu pada rancang bangun dan pengoperasian yang terpadu antara sistem
kearsipan dan sistem kegiatan organisasi. Selain itu, sistem pengelolaan arsip
dinamis juga harus memiliki kebijakan, pembagian tanggung jawab dan metode yang
akurat untuk kepentingan pengelolaannya sebagai sebuah sistem.
PENDEKATAN-PENDEKATAN
DALAM PENGELOLAAN ARSIP
Terdapat
dua pendekatan utama dalam pengelolaan arsip, yakni pendekatan daur hidup (life
cycle) dan kontinum arsip (records continuum).
1.
Pendekatan Daur Hidup Arsip (Life Cycle)
Selama beberapa dekade mode
daur hidup mendominasi praktik pengelolaan arsip di dunia internasional. Secara
ringkas pendekatan ini berpendapat bahwa arsip menjalani suatu seri berurutan
mulai dari fase kelahirannya sebagai arsip (penciptaan), diikuti dengan fase
kehidupan aktifnya (pemeliharaan dan penggunaan) dan selanjutnya fase penentuan
nasib akhirnya (yakni simpan sebagai arsip statis, dimusnahkan atau diserahkan
ke pihak lainnya) yang ditetapkan oleh pemerintah (arsip nasional) dengan
melakukan penilaian terhadap nilai legal, finansial, historikal, kurtural,
terhadap arsip tersebut.
Terdapat
pula yang membagi fase daur hidup tersebut ke dalam 5 fase utama, yakni
penciptaan, pendistribusian, penggunaan, pemeliharaan dan penyusutan. Dalam
setiap fase ini terdapat berbagai elemen dan aktivitas. Pada akhir daur hidup
awal ini, arsip akan memasuki daur hidup kedua, yakni daur hidup sebagai arsip
statis. Di sini terdapat aktivitas penilaian arsip yang bernilai jangka
panjang, selanjutnya diakuisisi, diberi informasi (deskripsi), dipelihara dan
disediakan untuk diakses oleh masyarakat.
Namun
demikian, terdapat pendapat bahwa pendekatan ini hanya memadai untuk dipakai
terhadap arsip-arsip berbasis kertas dan tidak sesuai untuk menangani arsip
dalam era informasi di mana arsip semakin virtual, dinamis serta tergantung
pada teknologi. Keberadaan arsip konvensional dan arsip elektronik saat ini
merupakan tantangan bagi penerapan model daur hidup ini. Fokus dari pendekatan
daur hidup arsip adalah proses-proses rutin. Kenyataan yang ada adalah sebagai
berikut.
a. Volume
arsip elektronik yang sangat banyak dan kenyataan bahwa kebanyakan berada di
luar sistem pengelolaan arsip tradisional, yakni disimpan di PC, laptop,
database, server surat elektronik.
b. Bahwa
arsip-arsip tersebut dapat dengan mudah dimanipulasi, diubah atau dihilangkan
tanpa terlacak.
Penilaian dan penetapan status akhir dari arsip-arsip
tersebut pada fase akhir daur hidupnya sulit untuk dilakukan atau kalaupun
arsip-arsip ada, integritas dan reliabilitas arsip-arsip tersebut mungkin tidak
memadai lagi untuk memenuhi ketentuan sebagai bukti atau informasi baik untuk
saat ini maupun masa mendatang.
2.
Pendekatan Records Continuum
Records continuum merupakan
pendekatan alternatif untuk pengelolaan arsip, apa pun formatnya, yang
dikembangkan oleh para peneliti dari Monash
University. Australian Standard AS 3490-1996 mendefinisikan istilah records
continuum sebagai. “the whole extent of a record’s existence. Refers to a
consistent and coherent regime of management processes from the the time of the
creation of records (and before creation, in the design of recordkeeping
systems), through to the preservation and use of records as archives” (“seluruh
eksistensi arsip. Merupakan suatu rejim manajemen arsip yang konsisten dan
koheren mulai dari saat penciptaan arsip (dan bahkan sebelum penciptaan, dalam
perancangan sistem pengelolaan arsip), hingga preservasi dan penggunaan arsip
tersebut sebagai arsip statis”)
Pendekatan records continuum memfokuskan pada
manajemen arsip sebagai suatu proses yang berkelanjutan. Ia memandang perlunya
mengelola arsip dari perspektif aktivitas-aktivitas yang didokumentasikannya,
bukan memvisualisasikannya sebagai tahap-tahap yang berurutan, seperti yang
dianalogikan oleh pendekatan daur hidup. Dengan menempatkan penyusutan sebagai
tahap terakhir dari daur hidup suatu arsip, pendekatan daur hidup tidak
menekankan perlunya untuk merancang sistem yang dapat memastikan pengkapturan
arsip-arsip yang memiliki nilai jangka panjang di awal fasenya. Masalah ini
menjadi sangat penting dengan semakin meningkatnya volume informasi yang
diciptakan dan disimpan dalam format elektronik. Kecuali jika dilakukan kontrol
pada saat pengkapturan bukti dari aktivitas bisnis yang menyatu dengan sistem
pengelolaan arsip organisasi yang bersangkutan, informasi yang relevan atau
elemen-elemennya dapat diubah-ubah atau dihapus.
Records
continuum melihat pengelolaan arsip sebagai suatu proses yang
berkelanjutan yang dapat terjadi lintas beberapa dimensi. Proses dan
perkembangan arsip ini terbentuk dari aktivitas-aktivitas bisnis sejak
darisuatu arsip dibuat. Ia mempertimbangkan sejak awal arsip-arsip apa yang
perlu diciptakan untuk memberikan bukti dari suatu aktivitas bisnis atau
transaksi. Ia melihat sistem-sistem dan aturan-aturan apa yang diperlukan untuk
menjamin bahwa arsip-arsip tersebut dikaptur ke dalam suatu sistem pengelolaan
arsip dan dipelihara (meliputi akses, keamanan, dan penyimpanan) sesuai dengan
nilai dari arsip-arsip tersebut sebagai bukti bagi korporasi dan untuk
tujuan-tujuan kemasyarakatan. Oleh karenanya, pendekatan ini bersifat fleksibel
dan memungkinkan tindakan penilaian dan penyusutan dilakukan kapan pun
diperlukan, di saat awal, saat proses pemeliharaan atau saat sistem tersebut
berakhir atau digantikan.
Pendekatan
ini juga mengakui bahwa data kontekstual dan data struktural yang ditambahkan
pada dokumen atau arsip elektronik untuk menjamin kelengkapannya sebagai bukti
dari aktivitas bisnis perlu dikaptur. Dalam hal ini, records continuum melihat
arsip dalam empat dimensi, yaitu sebagai berikut.
a. Penciptaan
dokumen – penciptaan arsip atau dokumen (isi).
b. Penciptaan
data kontekstual dan struktural – penciptaan metadata (yakni data yang
menunjukkan konteks dari dokumen tersebut dan struktur atau bentuknya serta
bagaimana ia berelasi dengan arsip-arsip atau entitas-entitas lainnya). Hasil
dari proses ini adalah suatu arsip yang „lengkap‟.
c. Pengkapturan
ke dalam memori korporasi – pengkapturan arsip ke dalam sistem pengelolaan
arsip yang resmi yang menyediakan fasilitas penyimpanan, temu balik dan
penggunaan arsip, umumnya bagi pengguna dalam organisasi yang bersangkutan.
d. Pengkapturan
ke dalam memori masyarakat atau memori kolektif – pengkapturan dan penggunaan
arsip yang dibutuhkan untuk akuntabilitas masyarakat atau referensi (misalnya
penyerahan ke arsip nasional untuk dibuatkan jalan masuk dan dibuka aksesnya
bagi masyarakat). Pendekatan records continuum memberikan suatu
pendekatan yang terpadu terhadap pengelolaan arsip, khususnya arsip elektronik,
di mana manajemen dan administrasi terhadap arsip dapat dibagi oleh para
pengguna akhir (end user), staf bagian arsip, dan staf bagian teknologi
informasi.
TEKNIK
PENGELOLAAN DOKUMEN SECARA MANUAL DAN ELEKTRONIK
Teknik pengelolaan dokumen secara
manual:
Arsip
manual dokumen-dokumen yang dikelola secara manual. Dokumennya yang dikelola
masih berupa kertas.
Pengelolaan
dokumen secara manual:
1. Teknik
pengumpulan data dokumen
Dokumen yang dianggap
penting disinpan dan dikumpulkan.
2. Teknik
penyusunan dokumen
a. Susunan
abjad
Dokumen disusun dengan
menggunakan abjad.
b. Susunan
nomor
Dokumen disusun dengan
menggunakan nomor/angka.
3. Teknik
menyimpan dokumen
a. Memeriksa
Langkah ini dilakukan
agar tidak terjadi kekeliruan penyimpanan terhadap surat yang sebenarnya harus
diedarkan kepada unit-unit lain.
b. Mengindeks
Mengindeks adalah
memilih nama yang akan dipakai sebagai identitas penyimpanan dan kemudian
menguraikan menjadi unit-unit keperluan.
c. Memberi
tanda
Pada langkah ini nama
atau kata tangkap yang sudah diindeks sebagai unit-unit diberi tanda, misalnya
lingkaran dengan warna merah dan anngka 1 untuk unit satu dan seterusnya bila
unitnya masih ada.
d. Menyortir
Menyortir adalah
mengelompokan dokumen ke dalam jenisnya masing-masing, agar memudahkan kita
dalam mencari bila diperlukan.
e. Menempatkan
Pekerjaan ini
harus dilakukan dengan hati-hati agar
tidak salah dalam menempatkan dokumen yanng sangat penting.
Teknik pengelolaan dokumen secara
elektronik
Arsip elektronik
adalah informasi yang direkam dan disimpan dalam media elektronik dengan wujud
digital, mulai dari tulisan,suara,gambar,foto, dan lain-lain.
1. Teknik
pengumpulan data dokumen
Dokumen yang dianggap
penting disinpan dan dikumpulkan.
2. Penciptaan
dan Penyimpanan
Dalam mengelola arsip elektronik,
penciptaan dan penyimpanan dapat dilakukan dalam satu tahap. Arsip elektronik
yang dibuat dari awal menggunakan teknologi komputer dapat secara langsung
diintegrasikan kedalam sistem pengelolaan arsip elektronik, namun untuk arsip
yang merupakan hasil digitalisasi maka perlu dialih mediakan.
a. Teknik
Scanning
Alih media dengan menggunakan
scanning atau memindai dokumen yang akan menghasilkan data gambar yang dapat
disimpan di komputer. Proses scanning dapat dilakukan dengan mengunkan media
print scanner.
b. Teknik
Conversion
Mengkonversi dokumen adalah proses mengubah
dokumen word processor atau spreadsheet menjadi data gambar permanen untuk
disimpan pada sistem komputerisasi.
c. Teknik
Importing
Metode ini memindahkan data secara
elektronik seperti dokumen office (e-mail), grafik atau data video ke dalam
sistem pengarsipan dokumen elektronik. Data dapat dipindahkan dengan melakukan
drag and drop ke sistem dan tetap menggunakan format data.
d. Teknik Online (terkoneksi)
Penyimpanan online ini merupakan
media terbaru dalam teknologi informasi yang berfungsi untuk menyimpan
file-file digital. Media ini dapat dimanfaatkan untuk men-backup arsip
elektronik yang sewaktu-waktu dapat di unduh ketika dibutuhkan.
e. Teknik
Offline (terputus) Penyimpanan offline dapat dilakukan dengan memanfaatkan
media penyimpanan magnetik dan optik seperti hard disk, digital audio tape,
vidio tape, compact disc (CD).
f. Teknik
Nearline
(semi terkoneksi) Model penyimpanan nearline
(semi terkoneksi) cocok digunakan untuk menyimpan arsip elektonik yang bersifat
dinamis inaktif, yaitu arsip elektonik yang masih digunakan sebagai
administrasi harian namun frekuensi penggunaanya sudah mulai berkurang. Media
yang tepat untuk menyimpan arsip elektonik tersebut adalah hardisk eksternal
dan flasdisk.
3. Distribusi
dan Penggunaan
Pendistribusian dan penggunaan arsip
elektronik juga dapat dilakukan dalam satu tahap/siklus. Contoh pendistribusian
arsip elektronik yang dilakukan dengan memanfaatkan media elektronik adalah
mikrofilm.
4. Penyimpanan
dan pemeliharaan
Arsip elektronik tergolong jenis
arsip baru dan banyak digunakan oleh beberapa instansi untuk proses
administrasi sehari-hari. Mengingat bentuk arsip elektronik yang berbeda jauh
berbeda dengan arsip cetak maka pemeliharaanya juga harus berbeda. Pemeliharaan
arsip elektronik dapat berupa pengamanan arsip elektronik itu sendiri,
pemeliharaan media penyimpanan, sistem pengelolaannya dan perangkat untuk
pengelolaan arsip tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Handoyo, S. w. (2010). Manajemen
dokumen elektronik. Jakarta.
rustam, M. (2013). Pengantar pengelolaan kearsipan.
Yogyakarta.
Komentar
Posting Komentar